0

Adab Nasehat: Sabar dan Lemah Lembut

Nasihat dan KeikhlasanAllah berfirman:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun bagi mereka serta bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadaNya.” (Ali Imaran 159)

Allah berfirman:

“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada sorga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menginfakkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Ali Imran 133-134)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Dan dalam firmaNnya: “… dan orang-orang yang menahan amarahnya… merupakan bukti bahwa menahan amarah itu berat bagi mereka, tetapi mereka dapat mengalahkan diri-diri mereka sendiri, maka mereka menahan amarahnya. Oleh karena itu, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya “Bukanlah orang yang kuat itu diukur dengan kepandaiannya dalam bergulat mengalahkan lawannya, tetapi orang yang kuat itu orang yang dapat menguasai dirinya pada saat marah.” (Muttafaq alaih) [1]

Di halaman lainnya, beliau (Syaikh Al Utsaimin) berkata: “Marah itu mempunyai beberapa faktor penyebab, diantaranya adalah marah karena membela diri, seperti seseorang yang melakukan sesuatu terhadapnya yang membuat ia marah, lalu ia marah untuk membela dirinya, dan marah seperti itu terlarang, karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika beliau dimintai wasiatnya oleh seseorang, “Janganlah engkau marah!” (HR. Bukhari No. 6116)

Faktor penyebab marah yang kedua adalah marah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti manusia yang melihat seseorang melanggar larangan-larangan Allah maka dia marah karena cinta dan cemburu terhadap dien Allah, marah seperti ini merupakan hal yang terpuji dan ia diberi pahala karena hal ini merupakan jejak Nabi shalallahu ‘alaihi 
wasallam
dan termasuk dalam firmanNya:

“Dan barang siapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabbnya.” (Al-Hajj 30)

“Dan barang siapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah maka itu sesungguhnya timbul dari ketakwaan hati” (Al-Hajj 32)

Apabila manusia melihat syi’ar-syi’ar Allah dan apa-apa yang terhormat di sisiNya yang ia agungi itu diinjak-injak oleh orang lain dan dilanggar, maka ia marah dan mengadakan pembalasan sehingga ia melakukan apa-apa yang Allah perintahkan kepadanya, berupa amar ma’ruf nahi munkar dan lainnya.” [2]

Allah berfirman:

“Terimalah apa yang mudah (dari akhlak dan muamalah manusia kepadamu) dan perintahlah orang lain untuk mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. Dan jika kamu digoda oleh syetan dengan satu godaan, maka berlindunglah kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha mengetahui” (Al-A’raaf 199-200)

FirmanNya خذ العفو, Ahli Tafsir berbeda pendapat tentang makna kalimat ini, ada yang berpendapat “Ambillah olehmu apa-apa yang mudah dari harta-harta mereka”, dan ini terjadi sebelum turunnya ayat yang mewajibkan zakat dan perincian orang-orang yang berhak untuk menerimanya. Pendapat kedua adalah bahwa Allah memerintahkan RasulNya untuk memberi maaf dan bersikap lunak terhadap orang-orang musyrikin selama sepuluh tahun, kemudian Ia memerintahkan beliau untuk bersikap keras kepada mereka, pendapat ini yang dipilih oleh Imam Thabari rahimahullah sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya. Pendapat yang ketiga adalah ambillah olehmu apa yang mudah dari akhlak mereka. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam tafsir ayat ini bahwa pendapat ketiga ini dikatakan oleh Mujahid, Abdullah bin Zubar, bapaknya yaitu Zubair, Ibnu Umar, dan Aisyah radhiallahu ‘anha, kemudian Ibnu Katsir mengatakan, “Dan ini pendapat yang paling masyhur.”

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: “Allah berfirman dengan memakai kata (ambillah “al-afwa”), tidak menyebutkan (berbuatlah afwu) dan tidak pula mengatakan (lakukanlah al-afwa), melainkan (ambillah al-afwa”). Yang dimaksud dengan “al-‘afwa” di sini adalah apa yang mudah dari manusia, karena manusia sesama lainnya saling bermuamalah, maka barangsiapa di antara manusia yang ingin agar manusia lainnya memperlakukan dia menurut apa yang ia sukai dan secara sempurna, maka hal ini akan menyusahkan dan memberatkan dia sendiri.

Sedangkan orang yang mengambil pelajaran dari ayat ini, dan dia mengambil apa yang mudah dari manusia, apa yang datang dari mereka, ia menerimanya. Sedangkan hak dia yang disia-siakan oleh mereka, ia tidak ambil pusing, kecuali yang mereka sia-siakan itu telah menodai dien Alah yang sangat terhormat, maka lain lagi ceritanya, tetapi ini bimbingan Allah kepada kita untuk mengambil apa yang mudah dari akhlak manusia dan muamalah mereka terhadapmu, sedangkan yang kurang dari mereka apabila engkau tidak ambil pusing dan meninggalkannya maka engkaulah pemilik keutamaan.” [3]

Imam Thabari rahimahullah mengatakan ketika menafsirkan firman Allah  yang artinya, “Dan perintahlah orang lain untuk mengerjakan yang ma’ruf“: “Termasuk perbuatan ma’ruf silaturahmi kepada orang yang telah memutuskannya, begitu pula memberi kepada orang yang tidak mau memberi kepada kita, dan memaafkan orang yang telah menzalimi kita. Dan setiap amalan yang Allah perintahkan atau yang Ia anjurkan maka itu semua termasuk “Al-‘Urf”. Allah tidak mengkhususkan Al-‘Urf itu untuk perbuatan tertentu, maka yang benar mengenai hal ini adalah Allah telah memerintahkan NabiNya shalallahu ‘alaihi wasallam agar memerintahkan kepada hamba-hambaNya untuk mengerjakan semua perbuatan yang ma’ruf.” [4]

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa seseorang berkata kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya mempunyai famili yang selalu saya hubungi tetapi mereka memutuskan hubungannya denganku, dan saya berbuat baik kepada mereka tetapi mereka membalas kebaikanku dengan berbuat jahat kepadaku, dan saya sabari hal itu semua tetapi mereka selalu berbuat jahil kepadaku. Maka beliau mengatakan: “Apabila keadaanmu itu seperti apa yang engkau katakan, maka seolah-olah engkau menaburkan abu panas kepada mulut mereka, dan engkau selalu mendapat pertolongan Allah atas mereka selama engkau berbuat yang demikian.” (HR. Muslim No. 2588) [5]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga menyebutkan di akhir risalah Al Aqidah Al Wasithiyyah bahwa di antara sifat-sifat mulia yang merupakan ciri Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mereka menganjurkan agar engkau menjalin hubungan silaturahmi terhadap orang yang memutuskannya denganmu, dan memberi kepada orang yang tidak mau memberi kepadamu dan memaafkan orang-orang yang menzalimimu.

Sesungguhnya kita harus membenci perbuatan maksiat, baik yang dilakukan oleh kita sendiri atau orang lain. kebencian kita akan perbuatan maksiat tidaklah bertentangan dengan kelemahlembutan dan kesabaran dalam berda’wah dan memberi nasehat kepada manusia.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: “Apabila kita perhatikan mengenai kekurangan kebanyakan dari juru da’wah hari ini, kita dapatkan sebagian di antara mereka terbawa dengan ghirah (kecemburuan) sehingga membuat manusia lari dari da’wahnya, apabila dia mendapatkan seseorang melakukan sesuatu yang haram, engkau dapatkan dia menyiarkan hal tersebut dengan kerasnya. Ia berkata, “Engkau tidak takut kepada Allah!” dan yang semisalnya sehingga membuat orang yang ditegur tersebut lari darinya. Ini tidak baik karena hal ini mengakibatkan akan mendapatkan reaksi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata ketika ia menukil ucapan Al Imam As Syafi’i rahimahullah mengenai sikap dia terhadap ahli kalam (ahli filsafat) ketika berkata: “Menurut pendapatku hukuman yang tepat bagi ahli kalam adalah dipukul dengan pelepah kurma dan sandal kemudian diarak mengelilingi masyarakat dan dikatakan ini adalah balasan bagi orang yang meninggalkan Al Kitab dan As Sunnah dan menerima ilmu kalam.”

Maka Syaikhul Islam berkata: “Sesungguhnya manusia apabila melihat kepada mereka, maka ia mendapatkan bahwa dalam satu sisi mereka memang berhak mendapatkan hukuman sebagaimana yang dikatakan oleh As Syafi’i, tetapi apabila ia melihat kepada mereka dengan kacamata qadar, yaitu kebingungan telah menyelimuti mereka dan syaitan telah menguasai mereka, maka dia menjadi lembut hatinya dan menyayangi mereka, dan dia bersyukur memuji Allah yang telah menyelamatkan dia dari musibah yang telah menimpa mereka. Mereka diberi kecerdasan, tetapi tidak diberi kebersihan hati, mereka diberi penalaran, tetapi tidak diberi ilmu, mereka diberi pendengaran, penglihatan, dan hati, tetapi itu semuat tidaklah bermanfaat bagi mereka.”

Begitulah seharusnya kita wahai saudara-saudara, agar melihat kepada ahli maksiat dengan dua kacamata, yaitu kacamata syariat dan kacamata qadar, dengan kacamata syariat, yaitu jangan sampai celaan orang yang suka mencela menghalangi kita untuk melaksanakan dien Allah ini sebagaimana Allah berfirman mengenai wanita dan laki-laki yang berzina:

“Wanita yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah mereka tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat.” (An Nuur 2)

Dan melihat mereka dengan kacamata qadar, maka kita berbuat lembut dan menyayangi mereka dan bermuamalah dengan mereka dengan apa-apa yang kita pandang lebih dekat sampai kepada tujuan dan menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan, dan ini merupakan hasil dari ilmunya penuntut ilmu, berbeda dengan orang bodoh yang tidak mempunyai ilmu, tetapi hanya mempunyai kecemburuan saja. Maka wajib atas penuntut ilmu sekaligus juru da’wah kepada agama Allah ini untuk menggunakan hikmah.” [6]

Syaikh Salim Al-Hilali berkata dalam bukunya:  “Ketahuilah wahai saudara seiman, sesungguhnya orang-orang yang menelan bulat-bulat perkara-perkara yang mengharuskan kita benci karena Allah (seperti kekufuran, kemunafikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan, pent), tanpa mengetahui perincian dan perkecualian yang tidak bertentangan dengan “benci karena Allah”, mereka mesti terjerumus kedalam kesalahan” [7]

Selanjutnya Syaikh Salim menjelaskan tentang pentingnya lemah lembut dalam menyampaikan da’wah dan memberikan nasehat kepada orang lain, ia berkata: “Tidaklah berarti “benci karena Allah” menjadikan da’wah islam dan nasehat kepada orang lain sampai terhalang, dan membiarkan mereka tenggelam di lautan maksiat tanpa ada peringatan. Oleh karena itu, harus ada amar ma’ruf nahi munkar, dan perhatian yang serius dalam rangka memberi hidayah kepada orang-orang yang tersesat dari jalan yang lurus. Dan disertai dengan kasih sayang kepada mereka, dan keinginan yang benar dalam upayanya memasukan mereka kedalam pintu-pintu ketaatan dan hidayah.

Ini semua baru akan dapat tercapai dengan sempurna apabila jiwa-jiwa manusia didatangi melalui pintu-pintunya. Oleh karena itu Allah Ta’ala menjadikan rambu-rambu da’wah menuju jalanNya: hikmah, nasehat yang baik, dan membantah dengan cara yang lebih baik. Allah berfirman:

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan nasehat yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Rabbmu Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl 125)

Dan ketahuilah wahai muslim, bahwasanya jiwa-jiwa yang binal dan hati-hati yang keras dapat dijinakkan dan menjadi lembut apabila kita menampakkan cinta, kasih sayang dan perhatian. Dan perhatikanlah ayat Al Qur’an berikut ini yang merupakan bimbingan robbani kepada Musa dan Harun ‘alaihima as-salam ketika Allah mengutus keduanya untuk menda’wahi thaghut Mesir Fir’aun:

“Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayatKu, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingatKu. Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Thaha 42-44)

Ayat ini dan yang sejenisnya dari ayat-ayat Al-Qur’an tidaklah bertentangan dengan firman Allah Ta’ala:

“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan besikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya.” (At-Taubah 73)

Yang demikian itu bahwa sikap keras yang diperintahkan sebagaimana ayat di atas dipakai dalam dua tempat:

Pertama, dalam keadaan perang, satu kondisi yang membutuhkan kekerasan dan kekasaran, sebagaimana Allah berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kalian itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan pada diri kalian, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah 123)

Kedua, pada saat membantah orang-orang kafir yang memerangi da’wah islam setelah sampainya dawah tersebut kepada mereka, dan pada saat membantah ahli bid’ah dan syubhat yang menyesatkan, yaitu orang-orang yang menghalangi manusia dari manhaj yang haq.

Allah berfirman:

“Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah kalian (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul,” niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah, “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna.” Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka dan berilah mereka nasehat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.” (SuratAn-Nisa 61-63)

Oleh karena itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyediakan mimbar untuk Hasan (bin Tsabit) menyerang orang-orang musyrik (dengan syair-syairnya). Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mendo’akan keburukan agar menimpa Kisra ketika ia merobek-robek surat yang beliau kirim mengajaknya kepada dien Allah yang mulia ini.

Dan masih banyak kisah-kisah lain yang membuktikan keharusan bersikap keras pada situasi dan kondisi tertentu.

Maka dengan ini ucapan sebagian ahli ilmu yang menyatakan bahwa cara dawah haruslah lemah lembut dari awal sampai akhirnya, dan bahwasanya sikap keras hanya digunakan pada saat perang saja, jelas menyalahi ayat Al-Qur’an, jejak Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan sikap salafus shalih radhiallahu ‘anhum.

Karena kalau sikap keras hanya digunakan pada saat perang saja, maka tentu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam akan memerangi orang-orang munafik sebagaimana beliau memerangi orang-orang musyrik, tetapi hal itu tidak terjadi, maka jelaslah bahwa sikap keras berlaku juga untuk menghadapi mereka di saat membantah dan enjelaskan

kebatilan mereka, menyingkap syubhat-syubhat mereka, dan memberantas bid’ah-bid’ah mereka, begitulah sikap salafus shalih dahulu.

Dan ketahuilah wahai saudara seiman, bahwa sikap keras ini mempunyai batasan-batasan yang terperinci yang butuh kepada pengkajian dan penelitian serta tidak boleh terburu-buru, agar engkau dapat bergantung kepada tali yang kokoh.

Dan ketahuilah -semoga Allah memberi taufik kepada kita semua untuk mentaati Allah dan mengikuti sunnah RasulNya shalallahu ‘alaihi wasallam– bahwa sikap lemah lembut dalam berdawah tidak berarti dengan bersikap ABS (asal bapak senang), mengorbankan prinsip dalam urusan-urusan dien ini, dan juga tidak berarti kita mengikuti arus agar sesuai dengan hawa nafsu dan syahwat manusia dengan alasan bahwa dien itu mudah. Dan begitu pula bahwa sikap keras dengan ucapan yang berbekas dan hujjah yang mematahkan syubhat mereka tidaklah berarti dengan mencela, mencaci maki dan berbuat ketololan.” [8]

Sebagai penutup dari pasal ini, penyusun akan meringkaskan nasehat Syaikh Muhammad Nasiruddin Al Albani rahimahullah kepada para penuntut ilmu yang saya terjemahkan secara bebas.

“Aku nasehatkan untuk saya pribadi khususnya dan untuk saudara-saudaraku kaum muslimin pada umumnya agar bertaqwa kepada Allah. Di antara bagian-bagian taqwa yang akan saya nasehatkan, di antaranya:

Pertama: Hendaklah kalian menuntut ilmu syar’i dengan ikhlas karena Allah, janganlah ada tujuan-tujuan yang lain seperti mengharapkan sesuatu balasan, ucapan terimakasih, atau senang tampil di muka umum.

Kedua: Di antara penyakit yang menimpa penuntut ilmu syar’i adalah ujub (bangga terhadap diri) dan lupa daratan, dia merasa sudah memiliki ilmu yang cukup sehingga berani untuk berijtihad sendiri tanpa mengambil bantuan dari penjelasan ulama salaf. Sebagaimana mereka tidak bersyukur kepada Allah yang telah memberikan taufik kepada mereka, berupa ilmu yang benar dan adab-adabnya, bahkan mereka tertipu dengan diri mereka sendiri, mereka menyangka telah memiliki kemapanan dalam ilmu sehingga muncullah dari mereka fatwa-fatwa yang mengguncangkan, tidak dilandasi dengan pemahaman yang benar berdasarkan Al Kitab dan As Sunnah, maka nampaklah fatwa-fatwa ini dari pemikiran-pemikiran yang tidak matang, mereka menyangka bahwa fatwa-fatwa tersebut adalah ilmu yang diambil dari Al Kitab dan As Sunnah, maka mereka sesat dengan pemikiran-pemikiran tersebut dan menyesatkan banyak manusia, dan kalian mengetahui semuanya di antara dampak negatif dari fenomena tadi munculnya kelompok di sebagian negeri Islam mengkafirkan kelompok-kelompok Islam lainnya dengan alasan-alasan yang dibuat-buat, tidak bisa kami kemukakan dalam kesempatan yang singkat ini, karena pertemuan kami ini sekarang khusus sedang memberikan peringatan dan nasehat kepada para penuntut ilmu dan juru da’wah, oleh karena itu saya menasehati saudara-saudara kami dari ahli sunnah wal hadis di seluruh negeri Islam agar mereka sabar dalam menuntut ilmu, dan agar mereka tidak tertipu dengan ilmu yang mereka miliki sekarang. Mereka harus mengikuti jalan yang telah digariskan, jangan sekali-kali mereka bersandar dengan mengandalkan semata-mata pemahaman mereka atau yang mereka beri nama dengan ijtihad mereka. Saya sering sekali mendengar dari saudara-saudara kami mereka mengatakan dengan sangat mudahnya “saya berijtihad” atau “saya berpendapat demikian” tanpa memikirkan akibat-akibat yang ditimbulkan dari ucapan-ucapannya. Mereka tidak mengambil bantuan dari kitab-kitab fiqih dan hadits serta pemahaman ulama terhadap kitab-kitab tersebut. Yang ada hanya hawa nafsu dan pemahaman yang dangkal dalam menggunakan dalil, sedangkan penyebabnya adalah ujub dan lupa daratan. Oleh karena itu, sekali lagi saya menasehatkan kepada para penuntut ilmu agar menjauhi segala akhlak yang tidak Islami, di antaranya agar mereka tidak tertipu oleh ilmu yang telah didapatkannya serta tidak tergelincir ke dalam ujub.

Ketiga: Terakhir, agar mereka menasehati manusia dengan cara yang lebih baik, menjauhi cara-cara yang kasar dan keras dalam berda’wah karena Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (Surah An Nahl 125)

Allah berfirman dengan ayat tadi karena kebenaran itu sendiri berat atas manusia untuk menerimanya, dan berat atas jiwa-jiwa mereka, oleh karena itu secara umum jiwa manusia sombong untuk menerimanya, kecuali sedikit orang yang dikehendaki Allah untuk langsung menerimanya. Apabila beratnya kebenaran itu atas jiwa manusia ditambah dengan beratnya cara berupa kekerasan dalam da’wah, maka itu berarti menjadikan manusia lari dari da’wah kebenaran. Anda perlu mengetahui sabda Rasulallah shalallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya di antara kalian ada orang-orang yang membuat orang lari (dari kebenaran),” beliau mengulanginya tiga kali.

Sebagai penutup, saya memohon kepada Allah Subhana wa Ta’ala agar jangan menjadikan kami sebagai orang-rang yang membuat orang lain lari dari kebenaran, akan tetapi jadikanlah kami sebagai orang-orang yang memiliki hikmah dan orang-orang yang mengamalkan Al Quran dan As Sunnah.” [9]

————-

Footnote:

[1] Syarah Riyadhus Shalihin, Juz 6 hal 280

[2] Ibid, juz 6 hal. 332

[3] Ibid, Juz 6 hal 281

[4] Tafsir Ath-Thabari, Juz 6 hal.154

[5] Riyadhus Shalihin, no. 323

[6] Kitabul Ilmi, oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hal. 39-40

[7] Al-Hubbu wal Bughdhu fillah, hal.37

[8] Ibid, hal.37-39

[9] Disarikan dari buku Hayaatul Al Albani, Juz 1 hal. 452-455

————

(Dinukil dari buku “Tepat Memberi Nasehat” (Fikih Nasehat), Penyusun: Fariq  Gasim Anuz, Penerbit: DAUN Publishing, Bekasi, Telp 021 71027573, email: daun.publishing@yahoo.com )

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *